Tanggal : 27/10/2009
Oleh : Nurul Karomah (SMK Negeri 2 Probolinggo)
Beragam metode pembelajaran banyak dikembangkan. Low of effect yang dikembangkan oleh Skinner membagi definisi belajar dalam beberapa istilah, dua diantaranya sangat populer ditelinga kalangan pendidik. Behaviorisme mengandung pengertian belajar sebagai proses perubahan perilaku hasil pengalaman sifatnya relatif menetap (hasil hubungan stimulus dan respon), dan Konstruktivisme yang merupakan suatu upaya membangun tata susunan hidup berbudaya modern.
Gambaran umum tentang pembelajaran Behavioristik adalah Proses belajar dapat berlangsung dengan tanpa mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Potensi peserta didik hanya menentukan tingkat kecepatan perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Proses belajar dapat berlangsung tanpa mempertimbangkan kesadaran dan kemauan peserta didik. Menurut mereka, kemauan ini bisa dimunculkan dengan pengkondisian,yakni melalui reward dan punishment. ( Artikel pendidikan, 2007)
Dengan demikian, behavioristik mengembangkan sebuah model pembelajaran teacher centered. Tujuan Pembelajaran ditentukan oleh pengajar atau institusi, siswa tidak perlu punya kehendak sendiri. Segala macam potensi siswa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Implikasinya materi Pelajaran hanya ditentukan oleh institusi dan pengajar. Guru dituntut untuk aktif menerangkan materi pelajaran, sementara siswa cukup memasukkan materi tersebut ke dalam benaknya. Pada waktu yang telah ditetapkan guru memberikan evaluasi berupa menjawab soal-soal yang berasal dari materi yang diterangkan tadi artinya guru telah menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa.
Namun demikian tak dapat dipungkiri pada kenyataannya model pembelajaran ini masih banyak dan cenderung tetap digunakan oleh kalangan guru khususnya guru di SMK. Alasannya sederhana saja, siswa SMK lebih suka dengan materi yang sifatnya praktis dan tidak bersifat teoritis, implikasinya siswa lebih suka dengan pelajaran-pelajaran praktek daripada menggali ilmu pengetahuan dengan harus membaca dan berpikir keras. Guru merasa lebih praktis menggunakan metode ini karena guru secara utuh dapat memindahkan pikirannya kepada pikiran anak. Mengapa demikian , sekali lagi siswa SMK cenderung lebih suka menerima materi pelajaran melalui penjelasan yang disampaikan oleh guru pada waktu itu ketimbang harus mencari sumber belajar atau akar permasalahan dari sebuah materi .
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng (1989) mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Gambaran umum model pengajaran konstuktivistik menurut Pranata dalam Dina Gasong (2007) adalah model pembelajaran yang, antara lain, sebagai berikut :
Menghargai keanekaragaman peserta didik. Implikasinya : pendidik harus menggunakan berbagai macam pendekatan sesuai karakteristik peserta didik, menyesuaikan kecepatan pengajarannya dengan tingkat penyerapan peserta didik yang berbeda-beda,dll.
Meletakkan keberhasilan proses pembelajaran lebih besar dipundak peserta didik daripada di tangan pendidik. Implikasinya : pendidik harus memberikan bertbagai metode belajar kepada peserta didik sehingga mereka mampu belajar secara mandiri, mempercayai bahwa peserta didik merupakan mahluk normal yang mampu menguasai materi yang harus diselesaikan dan pendidik sebagai fasilitator dan motivator, dll
Memberi kesempatan peserta didik mengekspresikan pikiran dan penemuannya. Implikasinya: pendidik harus mengurangi alokasi waktunya di dalam kelas untuk berceramah dan. memberi waktu yang luas kepada peserta didik untuk saling berikteraksi dengan temannya maupun dengan pendidiknya. Membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas-tugas dan mempresentasikan di kelas.
Mendorong peserta didik mampu memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungannya. Implikasinya : pendidik harus mendesign materi pelajarannya sedemikian rupa sehingga peserta didik terdorong untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dari berbagai tempat di luar fasilitas sekolah, misalnya : perpustakaan kota, internet, media masa, wawancara dengan orang-orang yang ahli di bidangnya, dll.
Berdasar pada keunggulan dan kelemahan dari masing-masing model pembelajaran, muncul pertanyaan, mungkinkah model behavioristik harus dihapuskan dalam pelaksanaan pembelajaran dan mampukah pendidik menerapkan model pembelajaran konstruktifistik dilaksanakan khususnya di sekolah-sekolah kejuruan (SMK).
Latar belakang input siswa SMK adalah siswa-siswa yang menginginkan selesai sekolah langsung bekerja. Asumsinya siswa lebih berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaran yang sifatnya praktikum, walaupun tak boleh dipungkiri mata pelajaran produktifpun juga membutuhkan pengetahuan yang luas agar dapat menguasainya dengan sempurna. Alasan latar belakang ekonomi orang tua siswa sangat berperan dalam meluruskan tujuan utama siswa memilih SMK sebagai lahan pembelajaran . Kedua berdasarkan hasil pengamatan rata-rata nilai input siswa SMK adalah cukup rendah , asumsinya kemampuan intelektual siswa SMK juga tidak begitu memuaskan jika dicomparasikan dengan siswa SMU. Lebih utama lagi hampir tak ada kemamuan bagi siswa SMK untuk mengembangkan diri melalui fasilitas yang disediakan oleh sekolah, ringan saja misalnya perpustakaan, dari hasil pengamatan siswa yang masuk ke ruang perpustakaan atas kehendak pribadi dalam sehari dari sekian ratus siswa hanya beberapa gelintir orang saja. Jelas bahwa minat membaca siswa SMK sangat rendah.
Hasil kuisioner pada 200 siswa menyatakan hanya 0,5 % siswa yang mempersiapkan diri pada malam hari untuk mempelajari atau hanya menyiapkan pelajaran yang akan diajarkan pada esok hari, 95,5% siswa mempersiapkan pelajaran pagi hari menjelang berangkat sekolah, asumsinya siswa SMK berangkat tanpa bekal pengetahuan apapun bahkan masih ada siswa yang lupa membawa buku/ modul untuk pelajaran hari ini .
Metode konstruktifistik yang memberi pandangan membangun kemandirian anak untuk mengelola pola pikir secara terarah. Dalam proses pembelajaran, konsep ini menghendaki agar anak didik dapat dibandingkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntunan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan penyesuaian seperti ini, anak didik berada dalam suasana aman dan bebas seperti yang disampaikan oleh Imam Barnadib, ( 1997 ) menjadi dilema yang sangat berat bagi guru jika siswa tidak memiliki responsible yang tinggi.
Tujuan pembelajaran konstruktifistik yang menentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktifitas kreatif produktif dalam konsteks nyata yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemonstrasikan akan menjadi jauh dari harapan bahkan akan muncul miskonsepsi jika siswa sebagai subyek tidak memiliki kemauan, bekal maupun kompetensi dasar untuk mengembangkan diri, sehingga guru tidak lagi menjadi fasilitator.
Dalam teori, peran guru adalah menyediakan suasana dimana para siswa mendesain dan mengarahkan kegiatan belajar itu lebih banyak dari pada menginginkan bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan ide-ide. (Ira Shor dan Paulo Freire, 2001).Namun sekali lagi untuk dapat menemukan ide-ide dan segala sesuatu guna memecahkan masalah, siswa harus mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang hal- hal yang berhubungan dengan materi saat itu. Nah untuk dapat mengemukakan gagasan siswa sekali lagi harus memiliki kemauan yang kuat dan bekal yang cukup untuk mempelajari materi secara mandiri .
Pandangan Konstruktivistik tentang evaluasi yang dikemukakan oleh Degeng dalam dina gasong (2007) mungkin lebih dapat diterima, karena pandangan konstruktifistik tentang evaluasi menyatakan Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermkana serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar.
Konstruktifistik bukan suatu teori yang bersih dan masih banyak kekurangan. (pahaji di Desember 27, 2007 ) Teori ini juga terbatas pada ruang dan waktu dalam pengaplikasiannya. Ada beberapa kendala yang mungkin timbul dalam penerapan teori belajar dengan pendekatan konstruktifis: Sulit mengubah keyakinan guru yang sudah terstruktur bertahun-tahun menggunakan pendekatan tradisional.Guru konstruktifis dituntut lebih kreatif dalam merencanakan pelajaran dan memilih atau menggunakan media. Pendekatan konstruktifis menuntut perubahan siswa evaluasi, yang mungkin belum bisa diterima oleh otoritas pendidik dalam waktu dekat. Fleksibilitas kurikulum mungkin masih sulit diterima oleh guru yang terbiasa dengan kurikulum yang terkontrol. Siswa dan orang tua mungkin memerlukan waktu beradab dengan proses belajar dan mengajar yang baru.
Kesimpulan yang dapat penulis ambil adalah bahwa pembelajaran konstruktifistik kurang dapat dipakai dalam semua kondisi, pada kondisi tertentu behavioristik masih dibutuhkan. Latar belakang orang tua, daerah, lingkungan dan budaya sekitar siswa memberi peran besar dalam keterlaksanaan metode ini. Kiranya perlu telaah lebih lanjut, dalam pengkombinasian pembelajaran sesuai dengan karakter siswa, lingkungan sekitar dan karakter sekolah untuk kemudian diupayakan agar dapat dilaksanakan secara baik sesuai dengan kondisi di lapangan.
Pengirim : Nurul Karomah, S. Pd
Kembali ke Atas